Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Apa Itu Situated Learning? Definisi, Konsep, Karakteristik dan Konteksnya di Dunia Nyata

Apa Itu Situated Learning? Definisi, Konsep, Karakteristik dan Konteksnya di Dunia Nyata

apa-itu-situated-learning-definisi-konsep-karakteristik-dan-konteksnya-di-dunia-nyata
apa-itu-situated-learning-definisi-konsep-karakteristik-dan-konteksnya-di-dunia-nyata

Pernahkah Anda merasa bahwa materi yang dipelajari di dalam kelas terasa sangat abstrak dan sulit dibayangkan penerapannya? Fenomena ini sering menjadi kritik dalam dunia pendidikan tradisional.

Sebagai solusinya, muncul sebuah pendekatan yang disebut Situated Learning (pembelajaran tersituasi). Pendekatan ini berargumen bahwa pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari aktivitas, konteks, dan budaya di mana pengetahuan tersebut digunakan.

Secara sederhana, situated learning menekankan bahwa belajar bukan sekadar proses pengiriman informasi dari pemikiran guru ke pemikiran siswa, melainkan sebuah proses sosial yang terjadi melalui partisipasi aktif dalam lingkungan nyata.

Sejarah dan Tokoh Penggagas Situated Learning

Konsep Situated Learning pertama kali diperkenalkan secara formal oleh antropolog sosial Jean Lave dan pakar teori pendidikan Etienne Wenger pada awal tahun 1990-an. Dalam karya mereka yang berjudul Situated Learning: Legitimate Peripheral Participation (1991), mereka mengamati bagaimana proses belajar terjadi di luar lingkungan sekolah formal, seperti pada komunitas penjahit, bidan, hingga teknisi angkatan laut.

Lave dan Wenger menemukan bahwa belajar yang paling efektif justru terjadi ketika individu berada dalam lingkungan sosial yang relevan dengan keterampilan yang dipelajari. Bagi mereka, belajar adalah sebuah fungsi dari aktivitas, konteks, dan budaya di mana ia terjadi (bersifat situated).

Apa Itu Inquiry-Based Learning? Sejarah, Karakteristik, dan Implementasinya

Apa Itu Situated Learning?

Definisi situated learning adalah pendekatan pembelajaran di mana perolehan pengetahuan dan keterampilan terjadi secara alami melalui keterlibatan dalam tugas-tugas autentik di dunia nyata. Dalam model ini, pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang “hidup” dan dipraktikkan, bukan sekadar teori yang dihafalkan dari buku teks.

Pembelajaran tersituasi bergeser dari fokus “apa yang diketahui” menjadi “bagaimana berpartisipasi”. Proses ini melibatkan interaksi antara orang, alat, dan lingkungan sosial yang saling mendukung untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam.

Community of Practice (CoP)

Salah satu pilar utama dalam teori ini adalah Community of Practice (Komunitas Praktik). CoP adalah sekelompok orang yang memiliki minat, profesi, atau kegemaran yang sama, dan mereka berinteraksi secara rutin untuk belajar bagaimana melakukannya dengan lebih baik.

Dalam sebuah CoP, terdapat tiga elemen penting:

  1. Domain: Adanya minat atau bidang keahlian yang sama yang menyatukan anggota komunitas.
  2. Community (Komunitas): Adanya hubungan sosial, diskusi, dan bantuan timbal balik antar anggota.
  3. Practice (Praktik): Adanya pembagian sumber daya, pengalaman, alat, dan cara memecahkan masalah yang dipraktikkan bersama.

Contoh sederhana dari CoP adalah sebuah komunitas pengembang perangkat lunak (developer), di mana anggota senior dan junior saling berbagi kode, memberikan masukan, dan menyelesaikan masalah teknis bersama-sama.

Apa Itu Action Learning? Definisi, Filosofi, Penggagas dan Karakteristik Belajar di Era Modern

Legitimate Peripheral Participation (LPP)

Bagaimana seorang pemula berubah menjadi ahli dalam sebuah komunitas? Lave dan Wenger menjelaskan proses ini melalui konsep Legitimate Peripheral Participation (LPP) atau Partisipasi Periferal yang Terlegitimasi.

  • Legitimate (Terlegitimasi): Pemula diakui sebagai anggota potensial dalam komunitas tersebut.
  • Peripheral (Periferal): Pemula memulai dari tugas-tugas yang sederhana atau berada di pinggiran (tepi) dari praktik utama. Mereka mengamati dan melakukan peran-peran kecil terlebih dahulu.
  • Participation (Partisipasi): Melalui interaksi yang terus-menerus, pemula secara bertahap bergerak dari pinggiran menuju pusat komunitas, mengambil tanggung jawab yang lebih besar, hingga akhirnya diakui sebagai seorang ahli (expert).

Karakteristik Utama Situated Learning

Berbeda dengan metode ceramah, situated learning memiliki ciri khas sebagai berikut:

  • Konteks Autentik: Belajar dilakukan dalam situasi yang menyerupai kondisi kerja atau kehidupan nyata yang sebenarnya.
  • Kolaborasi Sosial: Pembelajaran tidak terjadi secara terisolasi. Interaksi dengan orang lainโ€”baik sesama pelajar maupun ahliโ€”adalah wajib.
  • Akses ke Ahli: Pelajar memiliki kesempatan untuk mengamati bagaimana seorang profesional bekerja dan berpikir dalam menghadapi masalah.
  • Refleksi dalam Tindakan: Pelajar mengevaluasi pemahaman mereka berdasarkan hasil nyata dari tugas yang mereka kerjakan.

Implementasi dan Praktik di Dunia Pendidikan

Dalam dunia pendidikan modern, terutama bagi mahasiswa, situated learning diimplementasikan dalam berbagai format praktis:

Magang (Internship)

Ini adalah bentuk paling nyata dari situated learning. Mahasiswa masuk ke dalam organisasi atau perusahaan untuk merasakan langsung dinamika kerja. Mereka belajar budaya kerja, etika profesi, dan keterampilan teknis yang tidak diajarkan di kelas.

Apprenticeship (Magang Kerja/Perguruan)

Berbeda dengan magang biasa yang mungkin berdurasi singkat, apprenticeship menekankan pada hubungan bimbingan jangka panjang antara seorang ahli (mentor) dan murid. Fokusnya adalah penguasaan keterampilan tingkat tinggi melalui observasi dan imitasi yang terbimbing.

Apa Itu Transformative Learning? Belajar Teori Perubahan Paradigma dari Jack Mezirow

Kolaborasi Komunitas

Melibatkan mahasiswa dalam proyek-proyek sosial atau pengabdian masyarakat. Misalnya, mahasiswa teknik membantu membangun sistem pengairan di desa. Di sini, mereka belajar teknik sipil sekaligus belajar berkomunikasi dengan masyarakat setempat dalam konteks sosial yang nyata.

Manfaat bagi Pelajar dan Mahasiswa

Mengapa pendekatan ini sangat disarankan untuk dipraktikkan?

  1. Kesiapan Karir: Mahasiswa tidak akan mengalami “kejutan budaya” saat lulus karena mereka sudah terbiasa dengan ekosistem kerja selama masa studi.
  2. Pemahaman yang Bermakna: Pengetahuan menjadi lebih sulit dilupakan karena dikaitkan dengan pengalaman emosional dan sosial yang kuat.
  3. Pengembangan Jaringan (Networking): Melalui partisipasi dalam komunitas praktik, mahasiswa membangun relasi dengan para profesional yang dapat membantu karir mereka di masa depan.

Kesimpulan

Situated Learning mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati melampaui dinding kelas dan tumpukan buku teks. Dengan memahami teori Jean Lave dan Etienne Wenger, kita menyadari bahwa menjadi pintar bukan hanya soal menyimpan data di kepala, tetapi tentang bagaimana kita mampu menempatkan diri dan berpartisipasi secara bermakna dalam sebuah komunitas.

Bagi pelajar dan mahasiswa, jangan hanya terpaku pada nilai akademik. Carilah komunitas, ikutilah magang, dan terlibatlah dalam praktik nyata. Sebab, di dalam konteks sosial itulah, pembelajaran yang sesungguhnya sedang berlangsung.

Referensi

  • Lave, Jean, and Etienne Wenger.ย Situated learning: Legitimate peripheral participation. Cambridge university press, 1991.
  • Wenger, Etienne.ย Communities of practice: Learning, meaning, and identity. Cambridge university press, 1999.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan