Pernahkah kamu membayangkan bagaimana jadinya jika dunia ini tidak memiliki standar ukuran? Misalkan kamu ingin membeli kain untuk baju sekolah, lalu penjualnya mengukur kain tersebut menggunakan “jengkal” tangannya yang besar. Sesampainya di rumah, ibumu mengukurnya kembali dengan jengkal tangannya yang lebih kecil. Hasilnya? Kain tersebut mendadak jadi kurang!. Di sinilah letak keajaiban sains. Agar tidak terjadi kekacauan dan salah paham antarmanusia di seluruh dunia, para ilmuwan menciptakan sebuah sistem khusus yang kita sebut sebagai Besaran dan Satuan.
Yuk, kita bedah bersama mengenai apa itu besaran, mengapa ia disebut sebagai bahasa universal sains, serta bagaimana cara ia bekerja dalam membantu manusia mengukur isi alam semesta ini!
Memahami Pengertian Besaran: Segala Hal yang Bisa Diukur
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menilai sesuatu secara subjektif. Kamu mungkin bisa mengatakan, “Wah, cuaca hari ini panas sekali ya!” atau “Kucing itu lucu sekali!”. Namun dalam laboratorium fisika, kata “panas sekali” atau “lucu” tidak bisa dipakai sebagai standar ilmiah. Mengapa? Karena rasa panas atau rasa lucu bagi setiap orang itu berbeda-beda.
Di dalam dunia ilmu pengetahuan alam, sesuatu baru bisa dianggap sebagai data ilmiah jika berwujud Besaran. Secara definisi ilmiah, besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur, dapat dinyatakan dengan angka (nilai), dan memiliki satuan. Jadi, agar sebuah hal bisa disebut sebagai besaran, ia wajib memenuhi tiga syarat utama:
- Bisa diukur menggunakan alat ukur.
- Memiliki nilai yang berupa angka.
- Memiliki satuan sebagai pendamping angka tersebut.
Sebagai contoh nyata: Kamu mengukur panjang meja belajarmu dan mendapati hasilnya adalah 1,5 meter. Dalam kalimat tersebut, kegiatan mengukur panjang adalah besaran, 1,5 adalah nilai (angka), dan meter adalah satuan.
Mengapa Besaran Disebut Sebagai “Bahasa Universal” Sains?
Bayangkan jika ilmuwan di Indonesia menggunakan satuan “depa” untuk mengukur jarak, ilmuwan di Amerika menggunakan “mil”, dan ilmuwan di Jepang menggunakan “shaku”. Ketika mereka ingin bekerja sama membangun stasiun luar angkasa, roket yang mereka ciptakan bisa salah hantam atau pecah berantakan karena hitungannya berbeda!
Oleh karena itu, pada tahun 1960, para ilmuwan di seluruh dunia berkumpul dan menyepakati sebuah bahasa universal yang disebut Sistem Internasional (SI) atau Système International d’Unités. Sistem Internasional ini memastikan bahwa 1 meter di Indonesia memiliki panjang yang persis sama dengan 1 meter di kutub utara, di benua Afrika, bahkan di bulan sekalipun. Dengan adanya besaran dan satuan standar SI ini, seluruh manusia dari berbagai belahan bumi bisa berkomunikasi dan bertukar data sains dengan sangat akurat tanpa takut salah paham.
Pembagian Kelompok Besaran
Untuk mempermudah kita dalam mempelajarinya, para ahli fisika membagi besaran menjadi beberapa kelompok berdasarkan karakteristiknya:
- Berdasarkan Asal-usulnya: Besaran dibagi menjadi Besaran Pokok (grup mandiri yang satuannya sudah ditetapkan terlebih dahulu) dan Besaran Turunan (grup hasil kombinasi atau gabungan dari besaran-besaran pokok).
- Berdasarkan Arahnya: Besaran dibagi menjadi Besaran Skalar (hanya punya nilai tanpa peduli arah, contohnya waktu dan jarak) dan Besaran Vektor (punya nilai dan sangat memedulikan arah, contohnya gaya dan perpindahan).
Tahukah Kamu?
Dahulu kala, standar untuk ukuran 1 kilogram di dunia ditentukan oleh sebuah benda fisik nyata! Benda tersebut bernama International Prototype of the Kilogram (IPK), sebuah silinder logam kecil yang terbuat dari campuran platina dan iridium yang disimpan dengan sangat ketat di dalam brankas di Prancis sejak tahun 1889. Namun, karena berat logam ini bisa menyusut atau berubah akibat partikel debu tak kasat mata, sejak tahun 2019 para ilmuwan resmi memensiunkan logam tersebut. Sekarang, nilai 1 kilogram dihitung menggunakan rumus fisika kuantum yang super stabil bernama Konstanta Planck!
Kesimpulan
Besaran bukan sekadar materi hafalan di buku pelajaran sekolah, melainkan fondasi utama dari seluruh teknologi dan peradaban manusia. Tanpa adanya pemahaman tentang besaran, arsitek tidak akan bisa membangun gedung pencakar langit yang kokoh, dokter tidak bisa memberikan dosis obat yang pas, dan smartphone di tanganmu tidak akan pernah bisa tercipta. Memahami besaran membantu kita menghargai bagaimana manusia mencoba memahami keteraturan alam semesta lewat angka.
Yuk, Asah Otakmu! (Kuis Mini)
Setelah memahami konsep tentang apa itu besaran, coba jawab tantangan pertanyaan berikut di pikiranmu atau tuliskan di kolom komentar:
- Massa tubuh, rasa sayang, luas lapangan, warna baju, dan suhu badan, manakah yang termasuk ke dalam kelompok Besaran Fisika? Jelaskan alasan analisismu!
- Jika kamu membeli sebuah penggaris yang tidak memiliki angka dan garis penunjuk ukuran sama sekali, apakah penggaris tersebut masih bisa disebut sebagai alat ukur yang valid dalam sains? Mengapa?
Referensi
Kanginan, M. (2016). Fisika untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga


Komentar